Nana Eres
LANGGAM BOCAH
Hari ini kau memaksaku
ke kampungmu
Debu merayuku
di pagutan rumah
ranum sempurna:
Dua tiang besi di sisi,
Ubin kuning di kanan kiri
menyambutku sebelum pintu
”Disini aku bisa jadi siapa saja”
Dan mataku berkilat melihatmu
kau bocah ayu
bisa membangun rumah kayu
di tanah-tanah
di kampung rekah
dewasalah kau
di tangan hangat perempuan
dan lelaki tabah
dengan akar gelisah
dengan mantra
yang terlanjur ditebarkan
mimpi di hunian
lalu kau bercerita:
ibuku perempuan ayu
dengan keranjang dan sepeda
tiap pagi ia bergegas
ke pabrik seberang desa
betapa wangi bau tubuhnya!
melebihi wangi teh yang ia bawa
di guratan kulitnya
yang menua
ayahku sudah tua
betapa bersahaja ia
di kayuh roda tiga!
bacalah keakrabannya
pada becak dan jalan berdebu
pada keringat dan kelu
“tiap pagi aku menyambut terbit matahari
dengan tanganku
yang mengangkat timba di sumur itu
kuambil air
kucuci diriku
Tuhan tak pernah lelah mengisi sumur kami
dan bila mataku menatap tajam ke bawah
sebelum meraih seember air lagi
maka gema dari dalamnya
membisikkan doa di telingaku:
dewasalah sebelum kau jadi payah.”
2008
Jumat, 02 Januari 2009
puisi Nana Eres
Diposting oleh ANGSA BIRU di 00.52 0 komentar
puisi Nana Eres
Nana eres
Perempuan Kedua
Bagi Faisal Kamandobat
serupa bulan
merawat bumi
pelan-pelan sengaja diredupkan
dan terbitlah kepedihannya tiap pagi
aku
perempuan kedua
bertahun-tahun menunggui kata
dari rapal mantra si pecinta
malam hari
kutuliskan pengakuanku
mungkin saat itu kau sedang melamunkan kenangan di La mama
atau di antara debu-debu jalan Victoria
dan masih saja memuja cerita Hellen Collins
ketika gerimis mengetik-ngetik genting rumahmu
diam- diam malaikat menyampaikannya padamu
pertama,
bagaimana kau akan menggambarkan rambutku
apakah seindah benang sari kembang melati
serupa tikar di taman kota, arak-arakan awan,
atau rintik hujan?
kedua,
bagaimana kesunyianku memabukkan engkau yang riuh
padahal mataku bukan benih matahari
ia tak bisa membuat pejalan silau dan tersesat ke barat;
tempat segalanya tersimpan di kerinduan
serupa nabi dan kitab suci yang dinanti-nanti
ketiga,
aku paham sempurnanya pura-pura
terlebih bagi cinta;
seperih kerikil dan paku di jalan berdebu
maka
kupinjam pagi dari matamu
untuk membangun siang
saat paling tepat bagi mimpi yang hendak kumatikan
dari bibir perempuan kedua
lahirlah setiap kecemasanmu
Tegal, 2008
Diposting oleh ANGSA BIRU di 00.50 0 komentar
puisi
AKU MENULIS PUISI DI PASIRMU
Hanya doa
Sembunyi di batubatu
di mawar sunyi
di pagar rindu
di langit sengit
aku menyebut
membawa benang-benang baru
untuk hidupku
hidupmu
ia tertulis di telapak tangan
lihatlah garis-garisnya!
ia tak bisa diubah
bahkan oleh kenangan
Aku
menulis puisi di pasirmu
Ingatkah kau pada lampu tua itu
bangku coklat penuh rayap kayu
Dinding putih penuh kaligrafimu
Tirai hijau berderaiderai
Mendengar rinduku yang tak sampai padamu
Karna kupilih mawar sedang aku berduri
kusembah tiangtiang sedang aku bambu
kubaca zikir sedang aku itu sihir
kuhiba laut sedang aku lembah takut
Aku
menulis puisi di pasirmu
Betapa sakitnya doaku yang menunggu sampai
Diantara doa karang
ikan
ombak
nelayan
para pemabuk di laut itu
aku ingin mengurai cinta
seperti puisi pasir ditulisi pejalan sunyi
meski terhapus gelombang
yang dikirimkan doa ikanikan
meski impian
tak cukup untuk dituliskan
anakanak surau
membaca hurufmu
diantara tiangtiang perahu
ketika matahari mulai sembunyi
aku masih
menulis puisi di pasirmu
2008
Diposting oleh ANGSA BIRU di 00.46 0 komentar
puisi Nana Eres
HARI SENIN
Tepat di hari senin
aku katakan padamu
lewat daundaun berguguran
di telapak kakiku
inilah mimpiku yang cuma
di pertemuan kita yang sempurna
di menit-menit yang sempit
“kampus tanpa buku
Bagai pohon tanpa bunga
Rumah tanpa istri
Meja tanpa makanan
dan taman tanpa bunga”
Kau tau, aku kembali
ke dongeng masa kecilku
dulu ibuku bilang:
kau akan menemui hari ini lagi
lengkap dengan bunyi yang sama
lirikan mata
petikan gitar
wangi tanah
kembang pagi dan sore
bau tubuh
rambut
hela nafas
dan kacamataku
tak beda dari asal mula
pun bukan untuk hari seperti ini saja
tapi untuk hari-hari terpilih lain
sebab Tuhan ingin memberi
sebuah mimpi
dalam hari itu untukmu
untuk kau wujudkan
bahkan kau pun akan mengira
bahwa kau pernah ada di hari ini
jauh sebelum hari ini
tanpa tau kenapa
Itu misteri hari, sayang,
Dan sial,
aku bertemu dengan dongeng itu lagi
Masa kecilku itu lagi:
Apakah aku pernah menyimpanmu
dengan sepotong rindu
sebelum ini
atau memang kita dipertemukan Tuhan
lewat mimpi
dan kembali jadi hari yang pasti
ketika kau, di perpustakaan itu,
menunjukkanku dengan angkuh
pada buku-buku
yang lelah berbincang bersama debu
2008
Diposting oleh ANGSA BIRU di 00.43 0 komentar